Konflik oh konflik!

on

Konflik….konflik….dan konflik… my world is full of conflict syalalalaaaan *drama queen mode on* … bukan cuma hidup saya, saya yakin, hidup Anda pasti juga tidak lepas dari konflik bukan, entah konflik dengan kolega, keluarga atau bahkan dengan diri kita sendiri. Nah loooo!!! Konflik adalah salah satu dinamika kehidupan yang pasti pernah dialami oleh tiap individu yang dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan individu lain. Hal ini bisa dikatakan sangat pasti mengingat  tiada manusia di dunia ini yang dapat hidup seorang diri tanpa berinteraksi dengan orang lain. Konflik dapat terjadi karena adanya perbedaan persepsi mengenai kepentingan (perceived divergence of interest), hal ini akan tampak jelas ketika tidak tersedianya alternatif yang dapat memuaskan aspirasi kedua belah pihak. Kepentingan ataupun aspirasi dalam konteks ini mengacu pada perasaan orang mengenai apa yang sesungguhnya ia inginkan.

Konflik akan terjadi jika terdapat persepsi perbedaan kepentingan antara satu pihak dengan pihak lainnya.  Ada 5 macam strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasi konflik  (ini menurut Pruitt dan Rubin, kalau nda salah judul bukunya Social Conflict: Escalation, Stalemate, and Settlement) yaitu :

  • contending atau mencoba menerapkan solusi yang lebih disukai oleh salah satu pihak atas pihak lain,
  • yielding atau menurunkan aspirasi sendiri dan bersedia menerima kurang dari yang sebetulnya diinginkan,
  • problem solving atau mencari alternatif yang memuaskan aspirasi kedua belah pihak,
  • withdrawing atau memilih meninggalkan situasi konflik, baik secara fisik maupun psikologis.
  • inaction atau tidak melakukan apa pun.

Kalau kamu cenderung yang mana?

Berhubung konflik adalah salah satu warna yang hampir selalu meramaikan kertas putih dalam hidup kita,  betapapun kita berusaha untuk menghindarinya, tak akan bisa, jalan satu-satunya kalau mau menyelesaikannya ya dihadapi bukan malah berlari ataupun bersembunyi. Sama halnya dengan kita yang tak mungkin bisa mengontrol pikiran setiap orang yang berinteraksi dengan kita.
Maksud saya begini…maksud dia begitu…….ketika dua maksud ini tak bisa bertemu maka mari kita saling adu tinju hahaaa *jusst kidding. Berdasarkan beberapa pengalaman terakhir saya dalam menangani konflik, saya cenderung type pengalah ketika kompromi tak lagi menjadi solusi *halaaah* hahaha. Iyaa kalau memang saya merasa salah saya lebih memilih meminta maaf duluan, tapi kalau saya tidak merasa salah ya biasanya saya teteup kekeuuuuh dengan aspirasi saya. Namun seringkali saya akhirnya mengalah juga, kebetulan saya pecinta damaaaaai … *bluuuussshhhh*.

Ketika berkonflik dengan seseorang jujur saja jadinya makan tak enak tidur tak nyenyak, siapapun itu, kepikiran selalu . Tapi apabila saya sudah mengalah dan dia tetep saja keukeeeeeuh marah marah yaaa sudah tidak ada jalan lain saya tinggal aja… yang penting sudah ada itikad baik dari diri saya untuk berdamai kalau dia tidak mau bukan urusan saya *kejam mode on* .
Masih berdasar pengalaman saya sih ketika habis berkonflik dengan seseorang, apabila sudah berbaikan, saya malah merasa hubungan saya dengan orang itu menjadi lebih baik dan lebih dekat. Saya jadi lebih memahami dia dan mungkin juga sebaliknya. Pernah saya terlibat konflik dengan salah satu teman saya, karena waktu itu kami masih sama-sama panas dan kebetulan sama sama merasa benar jadi setelah konflik meletusss kami saling mendiamkan satu sama lain, belum ada yang mau mengalah. Membayangkannya kembali membuat saya ketawa sendiri,  karena terlihat jelas dengan saling mendiamkan itu kami menjadi tidak tenang, salah tingkah. Tampak saling tak peduli tapi sebenernya kepikiran. Lucuuu sekali. Cuma 3 jam tapi sungguh saya tersiksa setengah mati. Pingin baikan tapi masih takut tersulut emosi lagi, jadi saya mencoba menahan diri. Saya berniat meminta maaf esok hari. Akhirnya dia duluan yang memecah keheningan … *masih dengan nada maraaaaaah tapi*, menanyakan pada saya mau saya bagaimana, setelah itu bagaimana prosesnya saya lupaaa kita malah saling meluapkan apa yang kami rasa lalu diakhiri dengan pelukan. Hjahahaaa…. ternyata kami berdua sama sama merasa bersalah dan tidak enak. Yaaa intinya semuanya memang  harus dibicarakan…entah itu secara langsung ataupun menunggu sampai merasa tenang terlebih dahulu. Satu hal yang harus kita ingat bahwa jangan pernah ambil keputusan saat kita sedang emosi, karena pikiran kita sedang tidak jernih saat itu.  Arrrggghhhh yang namanya konflik ini memang tiada akhirnya….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s