My Philosophy of Life: Jamu

image

 

Saya ini terkategori sebagai pecinta makanan dan minuman tradisional Indonesia, termasuk salah satunya jamu. Kalau di rumah, berhubung ibu saya punya tiga anak gadis yang manis-manis yang kalau sedang masanya ‘dapet’ seringkali kesakitan luar biasa sampai pucat dan cuma bisa guling guling di kasur tak berdaya (kecuali saya), ibu sering membuatkan jamu kunir asam untuk kami. Entah sugesti entah memang ajaib, setelah minum itu perut berasa enakan. Keterusan deh sampai sekarang, saya jadi suka banget sama yang namanya jamu (ok, bukan cuma jamu lebih tepatnya semua  makanan dan minuman) dan bukan cuma kunir asam tapi juga beras kencur yang manis rupawan. PhotobucketKalau yg daun sirih, kalau nda dipaksa mending saya menghindar dengan berbagai cara. Hidup sudah cukup pahit tanpa harus ditambah dengan jamu pahit kan?. *halaaah*

Jadi begini tiba-tiba saja kemarin ketika saya menyeruput jamu kunir asam campur beras kencur ada salah satu teman saya yang menyeletuk, ‘seperti hidup ya jamu yang kamu minum’

And then saya jadi berpikir…. íyaa serius saya jadi mikir….

Photobucket

Some people said Life is never flat,,,

And the other said life is like roller coaster,,,

Hari ini kita tertawa dan bersuka Photobuckettapi tak ada jaminan besok kita akan mengalami rasa yang sama…

Dan ketika kita berduka Photobucketsiapa sangka hal itu justru awal dari bahagia…

Seperti halnya jamu yang saya minum kemarin, hidup saya pada khususnya dan hidup kita semua pada kemungkinannya merupakan kombinasi dari rasa yang berbeda. Asam dan manis (mungkin juga pahit yang terasa), tapi di situlah seninya, perpaduan rasa yang semakin membuat saya ketagihan menyeruputnya. Tak ada jamu yang hanya dibuat dari satu jenis bahan saja, pasti ada campurannya. Masing-masing rasanya memberikan sensasi yang berbeda. Begitupula dengan pengalaman emosi yang kita rasakan, membuat hidup kita semakin berwarna dan menjadikan kita semakin kuat menghadapi dunia.

Kalau Dee punya filosofi kopi yang terkenal itu baiklah kita sebut saja ini filosofi jamu

image

(ini Pak Penjual Jamu di belakang kantor, sang tokoh yang sukses membuka pikiran tentang arti kehidupan. Sepertinya lagu ‘Mbok jamu mbok jamu ada apa di bakulmu’ perlu direvisi, uda keren gini penampakan penjualnya pakai properti macam payung2 yang ada di pinggir pantai pula )

 

Regards,

Mbull

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s